Laser Eye Surgery

Suddenly, deciding to do a research about laser eye surgery (commonly called LASIK). I’ve been wondering whether i will get lasik or not for a couple of years. But i never do a thorough  research about pros and cons of lasik. FYI, lasik (or to be accurate, recovering my eye sight) is one of the top reason why I wanna get rich :v

 

1. Opening google scholar and open journal

2. Searching about eye

3. No relevant article found

4. Decide just searching for popular article on the web

5. Open about 10 article

6. Read the first article, “LASIK could make some aspects of your vision worse, including night vision with glare and halos.” … “In rare circumstances, LASIK can make your vision worse and not correctable with regular glasses or contact lenses.”

7. Read the second article,  “There is a risk of complications because the procedure includes manually cutting into the cornea. Sometimes the flap of the cornea may detach altogether and there is a risk of corneal scarring, all of which can lead to long-term sight problems. Cutting into the cornea can also lead to it being weakened in the long-term, which can lead to vision distortion. It is not recommended for those in the police or military because even slight trauma could detach the cornea.”

8. Close all tabs. No lasik for me.

 

Decided to just be grateful for my nearsighted vision. Of course It’s uncomfortable, I can’t recognize people on the street and I’m not enjoying the scenery or my trip wholefully. But it can be worse.

 

http://www.medicinenet.com/lasik_eye_surgery/page9.htm#what_are_the_disadvantages_of_lasik_surgery
http://www.dailymail.co.uk/health/article-1174156/The-good-eye-laser-guide-The-pros-cons-things-look-for.html

EnamOrang.com yeyy!

Post ini dari setianegara.com

Akan muncul juga di enamorang.com

Yeyy! \m/

Kenapa Kita Harus ke Kawinan Orang

Ketika saya masih kecil. Saya dan kedua orang tua saya pergi ke acara kawinan kerabat. Kami pergi dengan mengendarai mobil kantor, mobil mirip jeep berwarna hitam yang hanya memiliki 2 kursi di depan. Bagian belakang lebih diperuntukkan untuk barang yang besar. Meskipun terdapat kursi yang terlipat di bagian kanan kiri tapi karena kursi ini menghadap ke samping saya yang masih kecil terkadang mabuk jika duduk disitu. Oleh karena itu kadang saya duduk jongkok di antara dua kursi depan, tepat di belakang rem tangan dan tempat kopi serta recehan. Kadang juga saya membawa kursi plastik kecil, berwarna merah, murahan. Murahan karena ketika saya telah beranjak cukup besar kursi plastik ini tidak mampu mengakomodir gaya duduk saya yang sering jungkir ke belakang sehingga kaki belakang kursi ini pun akhirnya bengkok. Kursi ini saya taruh tepat di tengah dekat dan saya duduki agar saya tetap dapat duduk menghadap depan dan melihat jalan.

Saya waktu itu tidak mengerti dengan acara kawinan. Bukan hanya kawinan, tapi acara-acara lain juga, seperti ulang tahun atau aqiqah. Saya ingin menonton power ranger yang sedang ditayangkan di televisi waktu itu. Kenapa kita harus ke kawinan orang lain? Tentu saja di sana saya dapat makan, makanan yang jarang ada di dapur di rumah saya. Buah-buahan, ice cream, pudding, macaroni, adalah hal yang saya suka dari kawinan ini. Selain itu tidak ada. Selebihnya hanya orang-orang yang 3 kali tinggi saya berlalu-lalang. Bertemu dengan orang yang sudah lama tidak mereka bertemu, kemudian melakukan basa-basi, “Apa Kabar?”, “Anaknya sudah berapa?”, “Anaknya kelas berapa?”, dll. Pertanyaan-pertanyaan yang akan mereka lontarkan kembali ketika bertemu dia acara kawinan berikutnya.

Belum lagi masalah amplop. Kenapa kita harus memberi amplop ke mereka yang kawinan? Memang makanan di kawinan itu enak-enak, tetapi dengan uang segitu kita bisa membeli makan di luar yang kurang lebih sama. Apa Ibu saya yang selalu perhitungan terhadap pengeluaran rumah tangga ini melakukan kesalahan?

Di mobil pada perjalanan pulang saya menanyakan hal ini kepada Ayah saya, “Pak, kenapaki’ harus pergi ke acaranya orang?”.

Ayah saya menjawab, “Biar nanti kalo kau punya acara, orang-orang datang juga… Mau ko kalo nanti kau kawin terus ndak ada orang yang datang?”.

Jawaban Ayah saya itu make sense, tapi kurang mengena di hati saya. Entah karena saya tidak peduli dengan ada orang yang datang atau tidak ke kawinan saya atau merasa jawaban tadi terlalu balas-jasa-based, pamrih.

Belasan tahun kemudian baru saya bisa menjawab pertanyaan saya itu sendiri. Kenapa kita harus pergi ke kawinan atau acara orang lain? Karena kita senang dan bahagia atas acara tersebut. Kita bahagia atas pencapaian teman atau keluarga yng bisa mendapat pasangan, bertambah usia, dapat momongan, atau di wisuda. Kita sedih ketika teman mendapat musibah, bencana atau ada yang meninggal. Karena itu kita harus datang! Datang dan katakan secara langsung saya bahagia atas peristiwa ini atau saya sedih atas musibah kamu. Tidak semua orang bisa mengerti isi kepala kita bukan?

P.S. Mengenai amplop, itu juga kalo bisa dilakukan karena itu sama dengan memberi support ke pada yang punya hajat. Misalnya baru nikah kan butuh barang-barang baru kalo punya rumah baru misalnya. Di korea bahkan ada standarnya loh, misal: untuk kenalan, 30.000 won(Rp. 300.000); untuk teman dekat 50.000 won(Rp. 500.000); untuk sahabat atau keluarga: 100.000 won, kulkas, televisi, AC sampai tidak terbatas;